
Sejak kecil, hidupnya tidaklah mudah. Ia tumbuh tanpa pernah mengenal ayah kandung karena ditinggal sejak masih dalam kandungan.
Hidup bersama ibu yang harus berjuang sendirian melunasi hutang kakak-kakaknya membuat hari-harinya penuh dengan tantangan. Meski begitu, ibunya tetap berusaha tegar, bekerja keras demi anak-anaknya.
Awal mula mengenal Yatim Mandiri terjadi di kelas 4 SD, ketika gurunya, Bu Ainanik, memperkenalkan sanggar. Dari situlah perjalanannya dimulai.
Setelah itu, Bu Afifah dan Bu Dina menjadi guru pengganti yang terus mendampingi. Bu Dina kemudian mengenalkan ICMBS, sebuah sekolah berfasilitas lengkap dengan program beasiswa.
Meski awalnya ia berencana mondok di Wonogiri, akhirnya ia memilih ICMBS karena melihat peluang yang lebih baik untuk masa depannya.
Ada rasa senang dan sedih saat dinyatakan diterima di ICMBS. Senang karena berhasil lolos seleksi, namun sedih harus meninggalkan ibu dan keluarga. Meski begitu, keputusannya untuk melangkah penuh doa restu dari sang ibu.
Prestasinya pun sudah terlihat sejak SD. Ia pernah meraih juara 3 cerdas cermat Muhammadiyah di Gresik, serta konsisten menjadi peringkat 1 dari kelas 1 hingga kelas 6.
Cita-cita masa kecilnya adalah menjadi pilot, namun di ICMBS ia terinspirasi oleh perjuangan sang ibu untuk bercita-cita sebagai pengusaha kuliner.
Ia ingin meneruskan usaha ibunya, menghadirkan produk makanan yang bermanfaat, halal, dan bisa membahagiakan banyak orang.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik