
Gibran Hadi sempat merasakan kehilangan besar saat ayahnya meninggal dunia. Dalam masa penuh duka itu, seorang orang tua asuh dari Yatim Mandiri datang dan menawarinya kesempatan untuk mondok di SMP ICMBS.
Awalnya Gibran ragu, tetapi setelah dipikir matang, ia berani mengambil keputusan. Keberaniannya inilah yang membawanya ke sekolah yang kini ia cintai.
Meski kehilangan kepala keluarga, Gibran tetap tumbuh dalam keluarga yang harmonis. Ia hidup bersama ibu dan adiknya, sesekali terjadi konflik kecil layaknya kakak beradik, namun mereka selalu kembali saling mendukung.
Kesulitan terbesar Gibran muncul di awal masa mondok. Ia merasa tidak kerasan dengan lingkungan baru. Namun, ia menemukan cara untuk bertahan: berolahraga rutin dan mengisi waktu dengan kegiatan positif. Perlahan, ia mulai beradaptasi dan merasa nyaman dengan kehidupannya di ICMBS.
Tak hanya itu, Gibran juga membuktikan diri dalam prestasi. Ia pernah meraih Juara 2 Lomba Cipta Puisi, sebuah pencapaian yang menumbuhkan rasa percaya diri bahwa ia bisa terus berkembang.
Cita-citanya pun besar: Gibran ingin menjadi pegawai tambang, bahkan kelak bercita-cita menjadi bos tambang. Semua perjuangan ini ia lakukan agar bisa membanggakan keluarga dan memberi kehidupan yang lebih baik bagi orang-orang terdekatnya.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik