
Riski, Yatim Sejak Bayi, Berjuang Wujudkan Mimpi Jadi Atlet & Hafidz Qur’an
Riski Pratama lahir dari keluarga sederhana. Namun sejak bayi, ia harus kehilangan kasih sayang seorang ibu yang wafat karena sakit paru-paru.
Tak lama kemudian, ketikaRiski berusia 3–4 tahun, sang ayah juga meninggal dunia.
Sejak saat itu, Riski dibesarkan oleh bibinya, seorang perempuan tangguh yang merawatnya penuh kasih sayang bersama tiga anaknya.
BibiRiski bekerja menjual jajanan di depan rumah. Meski penghasilan terbatas dan kondisi ekonomi keluarga kerap sulit—bahkan pernah sampai kesulitan makan, bibinya tak pernah mengeluh, apalagi membeda-bedakan Riski dengan anak-anaknya sendiri.
Justru dari situ, Riski tumbuh dengan tekad kuat untuk belajar sungguh-sungguh demi membahagiakan bibi yang sudah banyak berkorban untuknya.
Dari seorang teman bibi, Riski mengenal Yatim Mandiri. Ia kemudian tinggal di asrama, sebelum akhirnya ditawari mengikuti tes beasiswa SMP ICMBS.
Alhamdulillah, Risky lulus, dan hal itu sangat meringankan beban keluarga. Sejak saat itu, jalan baru terbuka bagi dirinya.
Selama di asrama dan sekolah, Risky berhasil menorehkan prestasi: juara 3 OMATIQ Pengetahuan Islam, juara 2 lomba Cerdas Cermat, hingga meraih medali emas dan perunggu dalam lomba karate.
Cita-cita Risky bukan sekadar mimpi, melainkan doa dan perjuangan. Ia ingin menjadi atlet pencak silat sekaligus hafidz 30 juz, agar bisa membanggakan keluarga, terutama bibinya, serta memberi manfaat bagi banyak orang.
-
May, 1 2026
Campaign is published
