
Muhammad Raihan, siswa yatim kelas 7A, pertama kali mengenal ICM saat melihat sekolah ini dari jalan ketika ia sedang bermain motor.
Baginya, ICM tampak rapi, bersih, dan nyaman, hingga ia berkata kepada ibunya bahwa sekolah boarding school ini terlihat bagus. Dengan penuh doa, ibunya pun meminta bantuan temannya untuk mendaftarkan Raihan, dan alhamdulillah ia diterima.
Raihan memiliki impian besar, yaitu menghafalkan Al-Qur’an demi membahagiakan mama dan mendiang ayahnya. Namun perjalanan hidupnya tidak selalu mudah.
Kesedihan terbesar baginya adalah kehilangan orang yang sangat ia sayangi, yakni ayahnya. Sejak saat itu, ia semakin menyadari betapa besar perjuangan ibunya yang bekerja keras sebagai guru ngaji demi anak-anaknya.
Raihan adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Sejak kecil, ia dikenal cukup nakal, namun setelah masuk ICM, ia mulai banyak berubah—lebih disiplin, lebih terarah, dan semangat belajar semakin tumbuh.
Di tengah keterbatasan, Raihan tetap berprestasi. Salah satunya adalah meraih juara 1 dalam lomba sepak bola di kampungnya.
Dari situlah ia semakin mantap dengan cita-cita besarnya: menjadi pemain sepak bola terkenal. Bagi Raihan, sepak bola bukan sekadar hobi, tapi jalan untuk membanggakan keluarga, serta mewujudkan impian mendiang ayah dan ibunya yang selalu mendukung.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik