
Raditya Ilham, seorang remaja asal Tambaksari, Surabaya, kini duduk di kelas 9A SMP ICMBS. Perjalanannya tidaklah mudah.
Sejak kecil, ia harus merasakan kehilangan sang ayah ketika usianya baru sekitar 4–5 tahun. Hidup sebagai anak ke-4 dari enam bersaudara membuatnya tumbuh dalam keluarga sederhana, dengan segala keterbatasan yang ada.
Namun, di balik keterbatasan itu, ada sosok luar biasa: ibunya. Dengan berjualan nasi, sang ibu berusaha keras menghidupi keenam anaknya.
Setiap kali Raditya pulang dari pondok, ia merasa bahagia bisa membantu meski hanya dengan hal-hal kecil. Dari ibunya, Raditya belajar arti perjuangan, kesabaran, dan ketulusan tanpa batas.
Raditya bukan anak yang mudah menyerah. Ia punya kebiasaan menantang dirinya sendiri dengan target-target pribadi.
Baginya, setiap target yang berhasil dicapai adalah bukti bahwa ia mampu melangkah lebih jauh. Itu menjadi prestasi terindah yang membuatnya semakin percaya diri.
Impian Raditya jelas: menjadi seorang TNI AD. Ia ingin tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan tegar, bukan hanya untuk menjaga bangsa, tapi juga untuk membuat ibunya tersenyum bangga melihat perjuangannya.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik