
Sejak kecil, Zahi harus tumbuh tanpa sosok ayah. Sang ayah wafat ketika Zahi baru berusia 2 tahun, meninggalkan duka mendalam yang terus ia rasakan hingga kini.
Saat duduk di bangku SD, Zahi kerap dipanggil “yatim” oleh teman-temannya. Meski terasa perih, ia belajar untuk tetap tegar. Ia memilih cara terbaik untuk menguatkan hati selalu menghadiahkan doa dan bacaan Al-Fatihah untuk ayah tercinta.
Kini, Zahi tinggal dalam keluarga yang damai bersama ibu dan dua saudaranya. Ibunya adalah seorang guru yang penuh kasih sayang, mendampingi anak-anaknya tumbuh dengan semangat belajar.
Prestasi pun mulai diraih Zahi, terutama di bidang pencak silat.
Ia pernah meraih juara 3 dan juara 2 dalam kompetisi pencak silat, sebuah bukti bahwa ketekunan bisa melahirkan pencapaian membanggakan.
Lebih dari sekadar cita-cita, Zahi menyimpan mimpi besar untuk masa depannya. Ia ingin menjadi pelayar kapal pesiar.
Namun bukan hanya itu, tujuan mulianya adalah bisa membangun masjid dan membawa ibunya jalan-jalan dengan mobil pribadi.
Semua ia lakukan sebagai wujud cinta kepada keluarga dan bakti untuk almarhum ayahnya.
Yuk, bantu wujudkan cita-cita Zahi dengan menjadi orang tua asuh untuknya.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik