
Zulfikar Ali adalah seorang anak tangguh dari Pacitan yang tumbuh dalam keluarga sederhana penuh kehangatan dan perjuangan.
Ia mengenal Yatim Mandiri dari tetangganya yang menawarkan masuk sanggar gratis. Dari sanalah perjalanan ilmunya dimulai — dua tahun ia tekun belajar matematika sebelum akhirnya melanjutkan ke asrama Yatim Mandiri di Ponorogo.
Tiga tahun lebih ia menimba ilmu di sana, hingga akhirnya mengenal ICM sejak kelas 3 SD.
Zulfikar hidup bersama ibu, kakak, dan adiknya. Ibunya seorang petani coklat yang tekun, sering menghabiskan dua minggu penuh untuk menjemur hasil panen.
Kadang, Zulfikar ikut membantu sambil belajar menghargai kerja keras. Dulu, ayahnya merantau ke Cirebon demi mencari nafkah.
Namun takdir berkata lain — ayahnya jatuh sakit dan meninggal di sana. Sejak saat itu, sang ibu harus berjuang sendiri membesarkan anak-anaknya, sambil menjual donat demi menutupi kebutuhan sekolah mereka.
Meski kesedihan sering menghampiri, terutama saat mengingat pesan terakhir ayahnya — agar anak-anaknya meniru keteguhan dan kebaikan beliau — Zulfikar tidak pernah menyerah.
Ia terus belajar dan berprestasi. Beberapa prestasi yang pernah diraihnya antara lain: Juara 2 Lomba Puisi sekecamatan, Juara Harapan 2 Lomba Matematika, Juara 1 Lomba Silat sekabupaten, dan Juara 2 Pildacil sekecamatan.
Cita-citanya adalah menjadi guru PJOK, sosok yang sehat, kuat, dan mampu menginspirasi banyak anak untuk terus semangat belajar, meski dalam keterbatasan.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik