Namanya Maimuna (10 tahun) dan adiknya, Aswat (9 tahun). Mereka adalah anak yatim yang telah kehilangan ayah sejak kecil.
Kini, mereka tinggal bersama ibu yang bekerja sebagai penjual ikan di pinggir jalan. Untuk bisa membayar uang komite sekolah saja, mereka harus menunggu dagangan ikan habis terjual.
Seragam sekolah yang mereka kenakan pun sudah sangat tidak layak, dan mereka tidak memiliki sepatu seperti anak-anak lainnya.
Namun, semangat mereka untuk sekolah tidak pernah padam.
Bukan hanya semangat belajar yang mereka tunjukkan, tapi juga kemandirian dan bakti kepada sang ibu yang luar biasa.
Setiap hari, sepulang sekolah, Maimuna dan Aswat langsung membantu ibunya berjualan ikan masih dengan seragam yang robek dan tanpa alas kaki.
“Kami bantu mama jualan dulu. Nanti kalau sudah ada uang, baru bisa bayar uang komite…” (Maimuna, kelas 4 SD)
Meski hidup dalam keterbatasan, mereka tidak pernah absen sekolah, tidak pernah malu, dan tidak pernah berhenti bermimpi.
Itu adalah cerita dari satu anak di Indonesia, dan tentu ada Maimuna dan Aswat lain di luar sana yang butuh bantuan untuk pendidikan mereka.
Namanya Maimuna (10 tahun) dan adiknya, Aswat (9 tahun). Mereka adalah anak yatim yang telah kehilangan ayah sejak kecil.
Kini, mereka tinggal bersama ibu yang bekerja sebagai penjual ikan di pinggir jalan. Untuk bisa membayar uang komite sekolah saja, mereka harus menunggu dagangan ikan habis terjual.
Seragam sekolah yang mereka kenakan pun sudah sangat tidak layak, dan mereka tidak memiliki sepatu seperti anak-anak lainnya.

Namun, semangat mereka untuk sekolah tidak pernah padam.
Bukan hanya semangat belajar yang mereka tunjukkan, tapi juga kemandirian dan bakti kepada sang ibu yang luar biasa.
Setiap hari, sepulang sekolah, Maimuna dan Aswat langsung membantu ibunya berjualan ikan masih dengan seragam yang robek dan tanpa alas kaki.
“Kami bantu mama jualan dulu. Nanti kalau sudah ada uang, baru bisa bayar uang komite…” (Maimuna, kelas 4 SD)
Meski hidup dalam keterbatasan, mereka tidak pernah absen sekolah, tidak pernah malu, dan tidak pernah berhenti bermimpi.
Itu adalah cerita dari satu anak di Indonesia, dan tentu ada Maimuna dan Aswat lain di luar sana yang butuh bantuan untuk pendidikan mereka.
Tapi sebenarnya apa sih arti kemerdekaan yang sesungguhnya, sedangkan sekarang bisa dilihat ada banyak anak yatim yang untuk sekolah saja tidak bisa.
“Kemerdekaan belum sepenuhnya hadir untuk mereka yang kehilangan orang tua dan akses pendidikan.”
Faktanya :
📉 Tanpa pendidikan, kemiskinan antar generasi akan terus berulang (World Bank, 2022)
Setiap tahun kita menyanyikan lagu kemerdekaan, ikut lomba, dan upacara bendera.
Tapi bagaimana dengan anak-anak yatim yang belum pernah merasakan arti merdeka bahkan untuk sekedar punya seragam dan sepatu sekolah?
Sekarang adalah waktu terbaik untuk menyalakan semangat gotong royong dan berbagi pendidikan.
Yatim Mandiri hadir untuk memerdekakan anak-anak yatim dari belenggu keterbatasan. Kami hadir untuk memberikan solusi pendidikan dan kemandirian untuk mereka.
Tapi kami tidak bisa sendiri, kami butuh kamu untuk ikut berkontribusi untuk anak yatim di Indonesia.
Kamu bisa memilih langkah nyatamu:
Bantu mereka punya seragam, alat tulis, dan kebutuhan pendidikan mereka lainnya. Setiap donasi membawa mereka lebih dekat dengan cita-cita dan masa depan.
Copyright ©2025 – Yayasan Yatim Mandiri